Alamsyah, Seniman dari Desa Sungai Harapan

Alamsyah seorang seni ukir kayu Desa Sungai Harapan, foto: ihan/infolingga.net
Alamsyah seorang seni ukir kayu Desa Sungai Harapan, foto: ihan/infolingga.net

IL-Minimnya lapangan pekerjaan serta lemahnya ekonomi di Kab. Lingga membuat sebagian masyarakat Lingga pergi ke luar daerah untuk bekerja dan mencari uang. Namun tidak dengan bapak Alamsyah, seorang warga desa pengambil yang kesehariannya bekerja sebagai nelayan dan memiliki 3 orang anak ini. Meskipun ekonomi di Kab. Lingga saat ini masih sangat lemah dan lapangan pekerjaan yang boleh dikatakan sangatlah minim namun beliau berprinsip akan tetap di Kab. Lingga ini dan memanfaatkan apapun peluang yang baik dan halal untuk mencari dan dijadikan uang.

Selain berprofesi sebagai nelayan di Desa Sungai Harapan, Kec. Singkep Barat, Alamsyah mengaku juga mempunyai sebuah keahlian lain yaitu seni ukir. Hal itu juga dilakukannya selain untuk menuangkan ide kreatifnya dalam hal mengukir dan mengisi waktu luang juga dapat membantu menambah pundi-pundi ekonomi rumah tangga.

Pria ini selalu meluangkan waktunya setiap hari untuk membuat sebuah karya seni baru dengan motif beraneka ragam jenis hewan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya.

“Sudah lama saya menjadi pengrajin seni ukir kayu ini, awalnya hanya sebatas untuk dipakai dan digunakan sendiri sambil mengisi waktu luang, memang pada dasarnya saya dari kecil sudah menyukai hal-hal yang berbau seni oleh karena itu saya mencoba membuat beberapa bentuk hewan melalui kayu yang nantinya dapat di jadikan sebagai hiasan di rumah ataupun sebagai alat pegangan parang atau hulu parang”, ungkapnya pada media infolingga.net saat ditemui dikediamannya di Pengambil Desa Sungai Harapan, kamis (23/02/17).

“Adapun untuk waktu pengerjaan satu buah hulu paran atau pisau (ganggang parang) tergantung dari ukuran dan kerumitannya. Misalnya motif kepala burung biasanya bisa dikerjakan dalam waktu 1-2 hari, sedangkan untuk motif hewan seperti harimau, ular, naga dan rusa biasanya membutuhkan waktu 4-5 hari hal ini disebabkan oleh tingkat kerumitannya”, terangnya.

Dia juga menambahkan”, namun hal yang paling rumit proses pembuatannya yaitu kepala naga karena terlalu banyak yang harus di ukir. Namun semuanya perlu ketelitian karena kalau seandainya salah mengukir bisa-bisa menyebabkan bahan kayu tersebut menjadi patah”.

“Untuk harga sebuah hulu parang biasanya dihargai 150.000 dan tergantung motifnya juga, tapi selama ini saya tak pernah untuk menarifkan harga barang yang saya buat, saya tergantung dari sang pembeli, berapa pun dikasi saya ambil dan syukuri”, imbuhnya.

“Mengenai alat yang saya gunakan hanyalah sebuah pisau ukir yang tidak ada di jual di negeri manapun karena pisau ini saya buat sendiri sesuai dengan enaknya tangan saya menggunakannya. Sedangkan untuk pembeli biasanya kebanyakan orang kebun yang datang kesini minta tolong dibuatkan hulu parang bentuk kepala naga atau jenis hewan lainnya, bahkan juga hulu pisau dan ganggang senapan angin, untuk saat ini sudah banyak yang saya buat dan seandainya ditanyai mengenai berapa jumlahnya saya pun sudah lupa”, tambahnya lagi.

“Alhamdulillah, sebenarnya masih banyak hal-hal lain yang bisa kita kerjakan untuk menambah pundi-pundi uang kita asalkan kita mau terus berusaha dan rajin mencari peluang yang bisa menghasilkan duit, dari pada kita harus keluar daerah yang belum tentu juga mendapatkan pekerjaan apalagi sampai mencuri lebih baik kita mengembangkan bakat dan potensi yang ada pada diri kita”, tutupnya.

Seperti yang kita ketahui Seni ukir merupakan jenis seni kriya yang pengerjaannya dengan mencukil. Hasil cukilan berupa ornamen atau ragam hias. Bahan yang biasa untuk seni ukir adalah kayu, kulit, dan tempurung kelapa. Beberapa jenis benda pakai yang biasa diukir misalnya meja, kursi, lemari, partisi, dan sebagainya. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memang memiliki bakat seni, selain dapat menjadi salah satu alternatif penambah pundi-pundi ekonomi hal ini juga membantu kita untuk menuangkan ide kreatif dan bakat yang ada dalam diri kita apalagi di saat sekarang ini kondisi ekonomi di Kab. Lingga sangat lemah, perlu adanya dorongan dari diri kita1 sendiri untuk maju dan berkarya.(ihn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *