Angka Penderita Sakit Jiwa Meningkat di Lingga

Ilustrasi
Ilustrasi

IL-Sebanyak 115 orang tercatat penderita sakit jiwa di seluruh Kabupaten Lingga saat ini. Mirisnya, angka tersebut terus bertambah setiap tahunnya.

Tingginya angka tersebut diketahui setelah Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonedia (PPNI) cabang Kabupaten Lingga menggelar Workshop menangani terkini Pasien Skizofrenia, yang digelar selama 2 hari, yakni Senin (10/4) hingga Selasa (4/17) bertempat di Gedung Nasional, Dabo singkep, Kabupaten Lingga.

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Lingga, dr. Muhammad Syamsurizal mengatakan, kegiatan ini sangat penting untuk digelar di Lingga. Hal ini mengingat data dari Dinas KPKB Lingga ada kurang lebih 115 orang pasien penderita kelainan jiwa yang harus menjadi perhatian pemerintah, khususnya tenaga kesehatan.

Sementara masih di tempat yang sama, Panitia penyelenggara kegiatan workshop dr Indra memaparkan, work shop ini sendiri dilatarbekangi oleh tingkat kejadian gangguan jiwa atau penyakit gila  di Lingga yang cukup tinggi.

Untuk di wilayah Dabo Singkep saja, sedikitnya ada 54 orang penderita, selebihnya terdapat di daerah lainnya di wilayah Kabupaten Lingga. “Seperti diketahui selama ini, paradikma orang gila dianggap berbeda dengan manusia lainnya, selalu mendapatkan perlakuan yang tidak layak,” ujar dr Indra.

Ia mencontohkannya, seperti yang masih usia sekolah dikeluarkan dari sekolah, yang bekeluarga diceraikan, atau malah dipasung dan yang masih bekerja diberhentikan dari pekerjaannya. Tujuan pelaksanaan kegiatan ini, kata dia,  untuk lebih mengenalkan kepada dunia kesehatan apa itu Skizofrenia.

“Nantinya bagi mereka yang telah mengetahui, mereka bisa mendeteksi dini kejadian-kejadian seperti ini di wilayah kerjanya masing-masing dengan terapi tepat yamg diharapkan nantinya pasien dapat disembuhkan,” ujar dr Indra.

Ada dua jenis kesembuhan bagim penderuta, yakni pertama, kesembuhan melalui penyembuhan medis dan menyembuhan sosial.

Jika penyembuhannya melalui medis, maka penderita benar-benar sembuh. Jika penyembuhan sosial si penderita tidak lagi menganggu masyarakatnya (sudah bisa mengurus diri sendiri). Dalam kegiatan ini sendiri, narasumber di datangkan dari Rumah Sakit Umum Pusat Angkatan Udara, Mayor Wahyudi, yang merupakan pakar sehatan jiwa.

Wahyudi menjelaskan untuk pengobatan penderita saat ini sudah ada pengobatan terapi baru. “Dahulunya pasien diberikan obat setiap hari. Tapi untuk sekarang cukup hanya sekali dalam sebulan melalui suntikan,” kata Wahyu.(ihn)

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *