Pesan Mentan ke Bupati Lingga, Selesaikan Singapura…!!!

IMG-20170506-WA0001IL-Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman menaruh harapan besar kepada Bupati Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), Alias Wello untuk menyelesaikan persoalan maraknya bahan pangan selundupan dari Singapura yang masuk ke wilayah Indonesia melalui pelabuhan tikus di Pulau Batam. Ia meyakini, persoalan tersebut hanya dapat diatasi dengan membangun pertanian di wilayah perbatasan Kepri.

“Di sini ada saudaraku Bupati Lingga. Selesaikan Singapura! Di sana ada jalur tikus dari Singapura masuk ke Indonesia. Kita adalah generasi pembaharu. Hidup cuma sekali, buatlah sesuatu yang baik. Banjiri negara tetangga dengan pangan, maka Anda akan dikenang sampai kiamat,” tegas Mentan, Andi Amran Sulaiman saat dialog dengan Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) di Banda Aceh, Jumat (5/5/2017).

Pria kelahiran Bone, Sulawesi Selatan ini, menceritakan pengalamannya saat mengunjungi jalur – jalur tikus yang menjadi pintu masuknya bahan pangan selundupan dari Singapura di Pulau Batam bersama Kapolda Kepri, Irjen Pol Sam Budigusdian beberapa waktu lalu. Setelah mempelajari dan menganalisa penyebab masuknya bahan pangan selundupan itu, tanpa ragu ia pun menyarankan agar Kapolda Kepri membuka jalur tikus itu lebar – lebar.

“Pak Kapolda tanya, maksudnya apa ini pak Menteri? Ditutup saja, bisa masuk. Apalagi dibuka. Aku katakan, berikutnya tikus dari Indonesia yang masuk ke Singapura. Caranya bagaimana? Bangun pertanian dan tingkatkan produktivitas pangan kita di Lingga dan wilayah perbatasan lainnya di Kepri,” bebernya.

Mentan mengaku yakin Bupati Lingga, Alias Wello dapat menyelesaikan persoalan pangan di daerahnya, termasuk mengatasi masuknya bahan pangan selundupan dari Singapura setelah melihat berbagai gebrakan di bidang pertanian yang dilakukannya. Ia pun tak segan menjuluki mantan Ketua DPRD Lingga pertama itu sebagai “Bupati Petarung”.

“Bupati Lingga ini petarung. Aku yakin, beliau mampu menyerang Singapura dengan komoditas pangan strategis. Selama 71 tahun Lingga tidak kenal batang padi. Tahun ini kami berikan sawah baru 3.000 hektar. Jika pak Bupati sanggup, 10.000 hektar pun aku kasih. Tapi, bagi bupati yang menurun produksinya, aku cabut anggarannya,” katanya.

Dalam acara dialog yang diikuti beberapa kepala daerah dan utusan KTNA seluruh Indonesia itu, Mentan Amran lebih banyak bicara soal penanganan pangan di wilayah perbatasan dan pentingnya melindungi petani.

“Dulu, Papua Nugini beli beras Rp40 ribu perkilogram. Saya tawari cukup beli Rp10 ribu per kilogram. Caranya, kita tanam padi di perbatasan. Aku katakan, tunggu di perbatasan. Kita ekspor pakai tangan saja dan ini sudah kita buktikan. Nanti tanam jagung, kita lempar saja sudah ekspor,” ujarnya.

Ia juga mengisahkan bagaimana kementerian yang dipimpinnya bisa menghemat anggaran sekitar Rp800 miliar setelah mengurangi acara – acara gunting pita, bangun kantor, beli kendaraan bermotor dan menggantinya dengan pengadaan traktor untuk petani.

“Mari kita dahulukan kepentingan petani, lindungi mereka dan bantu mereka. Kalau petani kita lemah, maka negara juga akan lemah. Tapi, kalau kita semua petani Indonesia bergerak bersama, maka dunia ini bisa kita guncang,” tambahnya.

Bupati Lingga, Alias Wello mengaku merasa tersanjung atas perhatian besar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman terhadap bumi “Bunda Tanah Melayu” yang dipimpinnya itu. Apa yang disampaikan Mentan di forum nasional itu, akan dijadikannya sebagai pelecut semangat untuk membangun sektor pertanian Lingga.

“Saya tegaskan, menempatkan pertanian sebagai sektor pembangunan prioritas di Lingga sudah harga mati dan tidak bisa ditawar – tawar lagi. Saya paham, ini tidak mudah dan butuh proses. Tapi, saya yakin sebuah perjuangan tidak akan tercapai tanpa usaha dan kerja keras. Mari kita berdoa, apa yang diharapkan pak Mentan dan kita semua, diijabah oleh Allah SWT,” katanya.(ihn)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *