Anggota DPRD Lingga Sui Hiok Kecewa Terkait Permasalahan Kesehatan

Keterangan foto : ilustrasi
Keterangan foto : ilustrasi

IL-Anggota DPRD Lingga, Sui Hiok kecewa terkait permasalahan kesehatan di Kabupaten Lingga tak kunjung usai.

Hal itu diucapkan setelah mengetahui tidak adanya ketersediaan Obat-obatan dan beberapa bahan lainnya serta Labotarium yang kurang memadai di Rumah Sakit (RS) Encik Maryam, Daek Lingga.

“Saya sangat kecewa dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga. Setelah pasien dirujuk ke Rumah Sakit dan dicek dr. Atan Ternyata benang untuk jahit operasi tidak ada. Katanya Kadis sudah kirim tapi belum sampai. Berapa jauh sih Daik-Dabo itu ?,” Ucap Sui Hiok yang duduk di Komisi II DPRD Lingga dari Partai Hanura ini, Jum’at (25/05/18).

Dia sampaikan ada seorang pasien dari Kecamatan Senayang dengan kondisi yang ingin melahirkan. Setelah dibawa ke Pustu Desa Temiang, namun harus dirujuk ke Puskesmas Tajur Biru.

Lagi-lagi dokter-dokter Puskesmas tak mampu untuk menangani karena diindikasikan harus dioperasi. Salah satu upayanya, pihak Puskesmas meminta keluarga untuk rujukan pasien ke Rumah Sakit Encek Maryam di Daik.

Namun, terang Sui Hiok rencana merujuk pasien ini dibatalkan karena tidak ada bahan Benang untuk operasi dan kosong di Rumah Sakit, akhirnya tengah malam pasien dilarikan ke Rumah Sakit Tanjungpinang.

“sebelum dibawah ke Tanjungpinang Jam 10 malam suami pasien memberitahukan bahwa tidak bisa dirujuk ke Rumah Sakit Encek Maryam Daik karena ada alat yang tidak ada dirumah sakit tersebut kalau pasien mau operasi. Saya pun langsung hubungi Direktur RS Encek Maryam. Ternyata benang untuk jahit bekas operasi tidak ada!. Saya sangat bingung dengan pelayanan kesehatan Kabupaten Lingga, mau dibawa kemana. Dan dikemanakan obat-obatan pada Anggaran tahun 2017,” tegas dia.

Menurutnya, Pihaknya dari komisi II juga pernah sidak ke Rumah Sakit Encek Maryam pada Juli 2017 lalu. Sehingga pada September 2017 lalu LPJ Bupati Lingga terbaca anggaran pembelian Obat-obatan sebesar Rp 2,1 miliar dan realisasinya sebesar 92 persen dengan besar pengeluaran Rp 1,9 miliar lebih. Jadi perkiraannya obat sampai sekitar Oktober, November atau Desember.

“Saya rasa obat itu baru dilelang sekitar bulan September. Jadi saya rasa obat baru bisa sampai ke Dinas pada Oktober atau Desember. Tapi kemana Obat-obatan tersebut,” tanya Sui Hiok.

Seharusnya dengan anggaran Rp 1,9 miliar lebih itu, obat-obatan bisa berlimpah pada setiap Rumah Sakit Puskesmas atau Pustu saat ini. Bukan malah menyuruh Pasien-pasien beli obat di apotek-apotek luar.

“3 hari yang lalu, saya singgah di Rumah Sakit Encek Maryam Daik dan menanyakan pada pasien-pasien, ternyata mereka masih membeli Obat diluar. Saya benar-benar heran, padahal ini pelayanan dasar kesehatan masyarakat. Jangan kesannya kita tidak mampu,” Ungkapnya.

Politisi Partai Hanura yang berasal dari Dapil I ini juga menegaskan, dengan Anggaran yang besar itu tetapi fakta ketersediaan obat masih nihil, Dinas Kesehatan harus diinvestigasi lebih jauh.

“inikan nyawa orang jangan kita buat main-main. Saya ingin Dinas Kesehatan, mengenai masalah Anggaran untuk Pembelian Obat ini perlu dicek kemana saja dengan anggran 1,9 miliar lebih itu,” tutupnya.(MK/Red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *