Kepri Kota Andalan Bandar Dunia

Infolingga.net – Selain sebagai Bandar Madani, Kepri adalah sebagai kota andalan bagi pembangunan ekonomi di gerbang terdepan karena letaknya yang sangat strategis, berdekatan dengan dua negara yakni Malaysia dan Singapura, dengan mayoritas masyarakatnya Melayu dan memiliki ragam suku serta ras dan budaya namun terjaga kerukunannya.

Kepulauan Riau (Kepri) mencakup Kota Tanjungpinang, Kota Batam, Kabupaten Bintan, kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Lingga dan Kabupaten Anambas.

BATAM

Banyaknya tempat pariwisata di Batam, yang ramai dikunjungi wisatawan dari Negara Malaysia dan Singapura, membuktikan bahwa kota Batam adalah kota yang menjadi inspirasi pembangunan ekonomi dimasa depan.

Batam yang berdekatan dengan kedua negara tersebut juga diuntungkan oleh letak geografis yang sangat strategis bagi perdagangan dan perputaran ekonomi  yang sangat menguntungkan, dan tidak dimiliki oleh daerah lainnya di Indonesia, karena terletak dipersimpangan jalur laut internasional bagi kapal- kapal besar yang melintas.

Jalur Laut

Kapal nelayan mengangkut hasil pertanian dari daerah lain ke Pelabuhan rakyat Pantai Stres

Sebagai daerah kepulauan, Batam juga diuntungkan sebagai jalur laut yang menghubungkan antar Pulau didekatnya, seperti Bintan dan Tanjungpinang, sedangkan secara jalur Internasional, Pulau Batam juga masuk dalam kategori sebagai jalur lintas Negara. Hal ini terbukti banyaknya Kapal-kapal besar yang melintas di perairan lintas batas negara (jalur OPL) yang berseberangan dengan negara Malaysia dan Singapura.

Trnasportasi laut ini juga sudah menjadi kegiatan keseharian masyarakat hinterland sebagai transportasi penyeberangan dan transportasi untuk mengantar anak-anak menuju daratan dalam menimba ilmu.

Tukim nelayan yang kesehariannya juga sebagai tukang Ojek Laut, mengaku bahwa dirinya tiap hari mengantar jemput anak sekolah menggunakan Perahu Pompong dengan biaya Rp. 5.000 per orang  dan bagi masyarakat umum dikenakan tarif sebesar Rp. 20.000 sekali antar ke Pulau terdekat.

Trnasportasi laut di Kota Batam bukan juga tidak ada kendala bagi sebagian masyarakat nelayan, terkadang juga ada saja para preman air yang mencoba memalaknya dengan meminta sejumlah uang ditengah perjalanan dengan cara yang tidak benarkan.

Fasilitias Dermaga Pelabuhan

Pelabuhan Bongkar Muat Kontainer (Foto: terdepan.co.id)

Sebagai kota inspirasi masa depan, Batam juga telah melengkapi diri dengan fasilitas Dermaga Pelabuhan, fasilitas lapangan  penumpukan  dan peralatan bongkar muat  yang dikelola oleh BP Batam dengan sangat professional.

No Uraian Panjang (m) Kapasitas (ton/m3) Kedalaman (mLWS)
1 Dermaga / Wharf A 182 3 -5,5 s.d -7
2 Dermaga / Wharf B 210 1,5 -7,5
3 Dermaga / Wharf C1 140 3 -6,8
4 Dermaga / Wharf C2 204 4 8,6

Sumber: batamport.bpbatam.go.id

Wisata Bahari

Jembatan Barelang, foto diambil dari tengah laut(Foto: Tim Terdepan.co.id)

Jembatan Barelang adalah sebuah bangunan yang saat ini telah menjadi Ikon Kota Batam. Jembatan Barelang menghubungkan banyak pulau dengan tujuan untuk memajukan dunia perindustrian. Jembatan ini sangat terkenal dan selalu diingat oleh siapapun yang pernah bertandang di Kota Batam, yang menganggap bahwa apabila belum menyinggahi jembatan yang satu ini, seolah belum datang di Kota Batam. Jembatan yang sejatinya bernama asli Jembatan Tengku Fisabilillah ini oleh masyarakat lebih terbiasa disebut sebagai Jembatan Barelang, karena berada di Kecamatan Barelang yang dibangun diera BJ Habibie dalam memimpin Otorita Batam.

Jembatan Barelang ini selain sebagai jembatan penghubung Pulau Batam dengan Rempang dan Galang serta beberapa pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Setoko serta Pulau Galang Baru, jembatan ini juga sebagai wisata Bahari yang sangat elok dipandang dari berbagai sudut pandang, terutama apabila kita melihat dan berswa foto sambil mengarungi lautan menggunakan perahu Pompong (Perahu Rakyat).

Perahu Zong (Perahu Tradisional Masyarakat Melayu)(Foto: Tim Terdepan.co.id)

Perahu Jong ini adalah sebuah miniatur perahu layar yang geraknya bergantung dengan arah angin. Perahu mungil yang menggunakan layar ini merupakan perahu permainan tradisional masyarakat pulau terdepan, yang ada di pesisir Kepri, yang keberadaannya hingga kini masih tetap lestari bahkan sering diadakan perlombaan yang pesertanya juga banyak diminati oleh turis mancanegara.

Hutan Bakau (Mangrov) di Pulau Panjang Batam Kepri(Foto: Tim Terdepan.co.id).

Wisata Mangrove

Batam yang didominasi dengan perairan, banyak ditemukan adanya tanaman Bakau atau Mangrove yang berada dipinggir bibir pantai yang fungsinya tidak hanya sebagai wisata bahari yang uni, namun keberadaan hutan Bakau ini juga sebagai penyeimbang dan pelindung ekosistim peralihan dari darat ke laut. Dimana secara ekologis, hutan bakau merupakan habitat bagi banyak jenis ikan, udang, dan moluska.

Presiden Jokowi Kunker ke Batam ikut menanam Bakau di Setoko bersama warga(Foto: Tim Terdepan.co.id)

Namun seiring perkembangan zaman dan pembangunan yang dilakukan secara terus-menerus dan adanya reklamasi, kini keberadaan hutan mangrove mulai memprihatinkan dan mengalami kerusakan yang sangat mengkhawatirkan. Bahkan adanya kerusakan hutan Mangrove ini juga menjadi perhatian tersendiri oleh Presiden RI Jokowidodo baru-baru ini yang langsung datang ke Batam ikut menanam Bakau bersama masyarakat di Setoko.

Wisata Kuliner

Makanan Laut Gonggong sejenis Siput(Foto: Tim Terdepan.co.id)

Batam yang diuntungkan dengan letak geografis, yang meliputi 95% adalah lautan dan 5% adalah daratan, banyak menyuguhkan wisata kuliner dari hasil laut, yang memiliki ciri kas tersendiri yang tidak dimiliki oleh kota lain yakni makanan Gonggong sejenis siput yang aman dan dapat dikonsumsi oleh manusia dengan rasa yang lezat.

Selain Gonggong, makanan dari hasil laut seperti Ikan Kerang, Ikan Kruisi dan Kerapu serta jenis ikan lainnya juga sangat melimpah. Bahkan olahan makanan yang sangat terkenal yakni Otak-otak menjadi favorit bagi para wisatawan yang datang di Kota Bandar Madani ini.

Penghasil Rumput Laut

Rumput Laut yang sudah kering (Diperagakan model Tim Terdepan.co.id)

Batam selain terkenal dengan alamnya yang indah juga terkenal dengan hasil tanaman rumput lautnya yang melimpah, hingga sanggup mengekspor 53 ton rumput laut kering ke China baru-baru ini, walaupun sedang dilanda pandemi Corona pada Maret 2021 yang lalu. Saat itu pelepasan ekspor senilai Rp 159 juta, disaksikan langung oleh mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Edhy Prabowo.

Dengan hasil rumput laut yang melimpah ini, juga telah membantu dan mendongkrak penghasilan nelayan pesisir disaat tidak bisa melaut dan daya tangkap ikan yang menurun.

Saipul salah satu nelayan di Pulau Panjang mengaku bersyukur tiap hari bisa panen rumput laut apabila air surut sehingga keberadaan rumput laut yang melimpah sangat membantu pendapatan perekonomian nelayan disaat tidak bisa melaut karena cuaca atau air pasang yang mengakibatkan ikan berkurang.

Pengrajin Perahu Fiber dan Kepompong

Perahu Kepompong saat mengangkut Rumput Laut(Foto: Tim Terdepan.co.id)

Sebagai daerah Kepulauan dan perairan, masyarakatnya juga banyak yang berusaha dibidang UMKM seperti pembuatan Perahu berbahan Fiber dan kayu (Perahu Pompong). Jenis usaha ini semenjak adanya pandemi Corona ikut terdampak dan berkurang jumlah order yang biasa diterimanya tiap bulannya , menyusut hingga 70% dibanding sebelum pandemi.

Yanto kepada Tim pada Rabu (29/09/21), saat bertandang di rumahnya menuturkan, bahwa saat ini sangat sepi orderan pembuatan perahu semenjak Corona, yang tadinya mendapat order sabulan dua kali, sekarang menjadi jarang, bahkan sama sekali tidak ada.

Menurutnya, dulunya sebelum pandemi Corona juga pernah dapat orderan dalam jumlah besar dari Dinas Perikanan hingga 40 perahu, namun sekarang di stop semenjak pandemi, sehingga pendapatan berkurang.

Kesehatan Masyarakat Hinterland

Rumah Warga Hinterland (Foto: Reporter : Zelly, Nonidy Scor, probatam.co)

Batam sebagai daerah Kepulauan secara pelayanan Kesehatan tidaklah sama. khususnya masyarakat yang tinggal dipesisir atau hinterland. Dimasa Pandemi Covid-19, akses transportasi untuk menuju pusat klinik atau Rumah Sakit menjadi hal yang penting untuk masyarakat agar mempermudah pasien dalam mendapatkan perawatan yang cepat. Bagi masyarakat di Perkotaan, transportasi bukanlah masalah yang sulit untuk didapati. Bahkan akses transportasi semakin mudah untuk didapatkan dengan aplikasi ojek online ataupun taksi online.

Namun hal tersebut tidak berlaku untuk masyarakat di wilayah hinterland atau pulau terluar. Kemudahan transportasi tersebut belum dapat dirasakan oleh masyarakat di Kawasan Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Minimnya Transportasi Laut

Transportasi Laut Perahu Pompong masyarakat hinterland (Foto: Reporter : Zelly, Nonidy Scor, probatam.co).

Minimnya transportasi laut bagi masyarakat hinterland terkadang memaksa harus menyewa kapal kecil  dengan biaya yang mahal, itupun jika dalam keadaan darurat menuju pulau terdekat yang memiliki fasilitas lebih komplit yakni Unit Gawat Darurat (UGD).

Hal tersebut diungkapkan oleh Bobi salah seorang penduduk di  Rempang Cate, Galang. Dimana didaerahnya hanya ada 2 Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu( Pustu), salah satunya yakni di Rempang Cate dan di Sembulang. Namun terkadang  tenaga kesehatan tidak setiap saat ada sehingga warga harus ke Sembulang untuk sekedar berobat.

Apalagi dimasa pandemi saat ini, waktu yang ada tidaklah banyak bagi warga yang terdampak virus Covid-19 dan diantaranya sulit untuk mendapatkan perawatan di  Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Galang yang pelayanan dan fasilitasnya lebih baik.

Karimun

UMKM Hasil Laut

Kerupuk Kemplang dari Kabupaten Karimun(Foto : Reporter Potretnusantara.id, Putri Saminta).

Kabupaten Karimun secara geografis sangat berdekatan dengan Pulau Batam dan berhadapan langsung dengan Negara Malaysia dan Singapura. Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Karimun juga terkenal dengan hasil lautnya yang melimpah. UMKM hasil laut juga turut mempengaruhi bagi perekonomian bagi Kabupaten Karimun seperti halnya Krupuk Kemplang.

Namun sayang saat wabah pandemi Corona melanda omset pengrajin krupuk Kemplang berbahan ikan ini mengalami penurunan yang sangat drastic hingga 50% disbanding sebelum terjadinya pandemi.

Subandi seorang pengusaha Kerupuk Kemplang salah satu pengusaha rumahan yang tinggal di Kampung Sidorejo, Bukit Tembak, Kecamatan Meral, Karimun menyampaikan, walaupun omset penjualan Kerupuk Kempang olahan berbahan ikan mengalami penurunan yang sangat drastis namun hingga kini usaha tersebut masih terus berjalan.

Hingga pada 6 bulan terakhir ini, omzet dari usahanya perlahan mulai kembali meningkat. Hal ini cukup dirasakan dari hasil penjualan kebeberapa wilayah di Karimun yang mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Apalagi saat ini wabah pandemi Corona dibeberapa daerah khususnya Kota Batam sudah mulai reda sehingga juga membawa harapan yang menggembirakan bagi para pelaku UMKM di Kabupaten Karimun kedepannya. Karena Batam sebagai target utama pemasaran Kerupuk Kemplang.

LINGGA

Lingga Sangat Potensial untuk Budidaya Perikanan

Bak Penampungan Ikan (Foto:Reporter Cahyo Aji Lingga).

Recommended For You

About the Author: Redaksi Infolingga

Media Informasi dan Hiburan Seputar Kepri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *