Komunitas Adat Terpencil Meriahi Jambore Kader Posyandu Tingkat Kab. Lingga

Info (Lingga) – Kader posyandu merupakan pilar penggalak pembangunan dibidang kesehatan, karena mereka bekerja tanpa pamrih. Kata ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Lingga Heryulita Wello, saat membuka ” Jambore kader posyandu” yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga bertempat di Gedung Nasional Dabo Singkep, selasa (05/11/2019).

Heryulita menyampaikan posyandu merupakan kegiatan dasar yang diselenggarakan dan diperuntukkan untuk masyarakat dibantu oleh petugas kesehatan.

“Posyandu juga merupakan wadah pemeliharan kesehatan yang perlu dibina demi kesehatan masyarakat”, kata ketua TP PKK Kabupaten Lingga.

“Kegiatan Jambore kader posyandu sangat baik dilaksanakan dan perlu diberikan apresiasi karena dapat menunjang sumber daya manusia,  karena dengan adanya kader posyandu lebih cepat menanggulangi permasalahan kesehatan, keterampilan yang dimiliki kader barang tentunya dapat mencegah dan mengatasi permasalahan di daerah, seperti Kasus Stunting”, ungkapnya lagi.

Menurutnya, wilayah Kabupaten Lingga ini masih ada tiga daerah yang masih dalam penanggulangan kasus stunting” angka ini tentunya lebih kecil dari yang terjadi di wilayah Kabupaten lainnya.

“Stunting adalah pertumbuhan yang tidak sesuai dengan umur di karenakan kurangnya asupan gizi “. Ujar Heryulita.

Sementara itu Wahyudi Ekaputra mewakili kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lingga pelaksana kegiatan melaporkan, tujuan di selenggarakannya Jambore Kader Posyandu “untuk meningkatkan kinerja bagi para kader pos yandu, dalam gerakan masyarakat hidup sehat”.

Sebelum dibukanya jambore kader posyandu, Dinas kesehatan Kabupaten Lingga lebih dahulu memeriahinya dengan berbagai kegiatan, seperti pawai yang diikuti seluruh kader posyandu di seluruh kawasan Kabupaten Lingga,

Dari sekian banyak kader posyandu yang ikut tersebut terdapat satu rombongan berjumlah lebih kurang 50 orang dari Komunitas Adat Terpencil (KAT) mewakili kecamatan selayar.

Selain ikut memeriahi pawai, komunitas ini juga memperagakan tata cara adat perkawinan hingga melahirkan dengan cara adat yang tidak lagi dibudayakan seperti menggunakan jasa dukun.

“Mereka tidak lagi melahirkan di sampan maupun di rumah, akan tetapi sudah ke puskesmas, ” ungkap Trinurika kordinator promodi kesehatan Pansimas Puskesmas Penuba.

Trinurika mengaku, memang pertama kali sulit untuk membina para suku KAT, mereka tidak dapat berdialog berbahasa kita, namun secara perlahan-lahan mereka dapat mengerti apa yang kita katakan.

“Selama 6 tahun saya mengabdi, tata cara adat mereka sudah berubah, mereka aktip datang ke posyandu”, tutup Trinurika. (J)

Recommended For You

About the Author: Redaksi Berita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *